12 September 2025

Strategi Pelayanan hingga Blueprint Nasional: Arah Baru Layanan Aritmia di Indonesia

Optimalisasi layanan aritmia di negara berkembang dalam mengatasi tantangan ekonomi, akses, dan infrastruktur.

Opening Ceremony merupakan ajang pembuka dari acara The 12th Annual Scientific Meeting InaHRS pada 12 September 2025 setelah pelaksanaan beberapa workshop di hari sebelumnya. Agenda ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI). Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Erika Maharani, MD selaku President of Indonesian Heart Rhythm Society, Prof. Wei Hua, MD, PhD selaku Vice President of Asia Pacific Heart Rhythm Society, dan Budi Gunadi Sadikin selaku Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Sambutan dari ketiga tokoh penting dibalik berdirinya simposium ini mengulas terkait berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan di ASM InaHRS 2025, mulai dari workshop, pre-symposium, kuliah umum, Bring Your ECG, hingga presentasi oral dan presentasi poster yang akan dilaksanakan selama 2 hari ke depan.


Agenda berikutnya dilanjutkan dengan Plenary Lecture yang dimoderatori oleh Muhammad Munawar, MD, PhD dan Dicky Armein Hanafy, MD, PhD ini mengangkat dua materi menarik terkait pelayanan aritmia di Indonesia. Materi pertama dengan judul “The Challenges of Arrhythmia Services in Developing Countries: Infrastructure, Training, and Access“ yang dibawakan oleh Prof. Hui-Nam Pak, MD, PhD menjelaskan terkait tantangan pelayanan kasus aritmia di negara berkembang. Ia menjabarkan mengenai fokus utama penanganan aritmia harus terletak pada prioritas klinis. Prioritas tertinggi adalah layanan yang dapat menyelamatkan nyawa, seperti pemasangan permanent pacemaker (PPM), implantable cardioverter defibrillator (ICD), dan cardiac resynchronization therapy (CRT) untuk mengatasi bradikardia, takikardia ventrikel, dan fibrilasi ventrikel. Untuk mewujudkan nilai inti tersebut, Asia Pacific Heart Rhythm Society (APHRS) telah menetapkan tujuan spesifik untuk tahun 2024 yang diwakili oleh akronim "BEST": Basic Science & Digital Health, Edukasi, Standardisasi & Scientific Journal, dan Transparansi. Pilar-pilar ini dirancang untuk mendorong pertumbuhan dan kolaborasi, yang pada akhirnya meningkatkan perawatan pasien di seluruh wilayah Asia–Pasifik.


Sesi dilanjutkan oleh Prof. Yoga Yuniadi, MD, PhD yang membahas secara rinci beban aritmia di negara middle-income countries (MICs) melalui perspektif ekonomi, dengan judul "Value-Based Arrhythmia Care: Evaluating the Economics of Device Implantation and Catheter Ablation in Middle-Income Countries (MICs)". Ia mengidentifikasi berbagai tantangan, termasuk keterbatasan tenaga kerja elektrofisiologi (EP) dan pasokan perangkat, akses yang tidak merata di daerah pedesaan, serta kesenjangan dalam pencegahan kematian jantung mendadak dan peningkatan prevalensi fibrilasi atrium. Presentasi ini menyoroti kompleksitas yang ada dan pentingnya pendekatan berbasis nilai untuk penanganan aritmia di MICs.


Faktor-faktor ini mencakup keterbatasan sistem, seperti jumlah tenaga kerja EP dan laboratorium yang terbatas, serta isu-isu etika dan ketersediaan pasokan perangkat. Lebih jauh, perspektif kesetaraan menyoroti tantangan akses di daerah pedesaan, biaya yang ditanggung pasien secara langsung (out-of-pocket), dan fragmentasi antara layanan kesehatan publik dan swasta. Hal ini diperburuk oleh penetrasi ICD yang lebih rendah dibandingkan high income countries (HICs), rujukan yang terlambat, dan hambatan biaya. 


Plenary Lecture dilanjutkan oleh Iwan Dakota, MD tentang “Enhancing Quality of Life and Outcomes in Arrhythmia Care: National Priorities, Innovations, and the Future Role of Governmental Initiatives”. Paparan mengenai rencana perilisan “Cetak Biru Rencana Pengembangan Aritmia Nasional” menjadi penutup dari sesi Plenary Lecture siang hari itu.