12 September 2025

Optimalisasi Terapi Gagal Jantung dan Inovasi Ablasi AF: Memperluas Pilihan Klinis melalui Seleksi Pasien dan Kebaruan Teknologi

Seleksi pasien tepat, teknologi terbaru, dan patient-centered care menjadi kunci keberhasilan manajemen gagal jantung da...

Pre-Symposium 2 di Dian Ballroom B yang berjudul “Joint Symposium With Heart Failure Working Group – Technological Advances in Cardiac Resynchronization Therapy: A New Era of Heart Failure Therapy” dipandu oleh Chaerul Achmad, MD, PhD dan Irnizarifka, MD


Sesi Pre-Symposium 2 ini diawali dengan paparan Anggia C. Lubis, MD melalui presentasi “How to Delay The Need for CRT By Optimizing Heart Failure Treatment in Patients with Low Ejection Fraction”. Pembicara menekankan pentingnya optimalisasi terapi farmakologis berbasis bukti, titrasi dosis yang tepat, serta kontrol faktor risiko secara ketat untuk menunda kebutuhan cardiac resynchronization therapy (CRT). Pendekatan tersebut terbukti meningkatkan kualitas hidup dan memperlambat progresivitas penyakit pada pasien dengan fraksi ejeksi rendah.


Selanjutnya, Agus Harsoyo, MD, PhD membawakan topik “Who Benefits from CRT? Indications, Patient Selection, and Real-World Outcomes”. Beliau menguraikan secara rinci indikasi klinis serta faktor seleksi pasien, termasuk fraksi ejeksi ≤35%, gejala gagal jantung persisten, dan adanya pemanjangan QRS dengan pola left bundle branch block (LBBB). Ia juga menekankan pentingnya mempertimbangkan etiologi kardiomiopati, jenis kelamin, serta irama atrium dalam memprediksi respons. Data dunia nyata menunjukkan variasi hasil sehingga seleksi kandidat menjadi kunci untuk memastikan terapi yang efektif.


Diskusi kemudian dilanjutkan oleh Budi Baktijasa Dharmajati, MD, PhD yang menekankan urgensi patient-centered decision making (PCDM) pada penggunaan ICD. Pembicara juga menyoroti bagaimana keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan dapat mencegah penyesalan di kemudian hari, sekaligus memperkuat kepercayaan dalam hubungan dokter dengan pasien.


Setelah Coffee Break, rangkaian dilanjutkan dengan Pre-Symposium 4 bertajuk “Milestones in AF Ablation: How Technology Shaping The Future of AF Ablation”, dipandu oleh Sunu B. Raharjo, MD, PhD dan Agung Fabian Chandranegara, MD. Sesi ini dibuka dengan presentasi Shih-Lin Chang, MD, PhD berjudul “Optimization of PFA Strategies in Persistent AF Ablation”. Ia menekankan protokol ketat dan pemetaan detail pascaprosedur untuk mencegah rekurensi, serta memperkenalkan teknologi terbaru seperti Farawave Nav.


Surinder Kaur, MD kemudian membawakan materi “Concomitant Pulse Field Ablation-Based Pulmonary Vein Isolation and Left Atrial Appendage Closure With Watchman FLX”. Beliau menyoroti kelayakan prosedur kombinasi, disertai catatan penting terkait risiko edema dan perlunya uji klinis lanjutan.

Sebagai penutup, Prof. Yoga Yuniadi, MD, PhD memaparkan “Recorded Case LAA Closure” yang menekankan pentingnya indikasi jelas, decision sharing, serta perencanaan posisi perangkat Watchman FLX yang matang untuk menjamin keberhasilan prosedur.


Secara general, seluruh rangkaian pre-symposium ini tidak hanya memperlihatkan kemajuan teknologi dalam terapi gagal jantung dan ablasi fibrilasi atrium, tetapi juga menegaskan bahwa keberhasilan intervensi sangat ditentukan oleh seleksi pasien yang tepat, kolaborasi multidisiplin, serta keterlibatan aktif pasien dalam pengambilan keputusan.