12 September 2025
Pendekatan multidisiplin dan teknologi pacemaker terbaru menjadi sorotan utama dalam manajemen aritmia terkini.
Pre-Symposium 1 mengangkat tema Return to Work and Sport in Patients With Arrhythmia: Clinical Guidance on Risk, Readiness, and Clearance Based on 2025 Task Force Recommendation dengan moderator Haryadi, MD dan Haikal, MD di Dian Ballroom A.
Sesi diawali oleh Erika Maharani, MD melalui presentasi “Electrophysiology Insights for Work and Sport Clearance”. Pembicara menekankan pentingnya pemeriksaan elektrofisiologi sebagai dasar penilaian kelayakan kerja maupun olahraga, termasuk interpretasi temuan klinis dan identifikasi faktor risiko untuk memastikan keputusan yang aman.
Dilanjutkan oleh Raymos Parlindungan Hutapea, MD dengan topik “Assessing Work Fitness Through The Occupational Medicine Lens”, yang menyoroti peran occupational medicine dalam menilai kesiapan kerja berdasarkan kondisi kesehatan, tuntutan pekerjaan, serta faktor risiko lingkungan. Mega Febrianora, MD kemudian memaparkan “How Cardiac Rehabilitation Helps The Patient in Returning to Work”. Pembicara menekankan rehabilitasi jantung sebagai proses komprehensif yang mencakup latihan fisik, edukasi, dan dukungan psikososial untuk mempersiapkan pasien kembali beraktivitas profesional secara aman dan produktif.
Sesi berikutnya menyoroti profesi khusus. Inarota Laily, MD dalam “Return to Play in Athletes with Arrhythmia” membahas evaluasi individual bagi atlet dengan aritmia, sementara Yuliana, MD melalui “Aeromedical Recommendation in Aircrew with Arrhythmia” menekankan standar keselamatan penerbangan dalam rekomendasi medis bagi pilot. Sebagai penutup, Hisnindarsyah, MD, PhD dalam “Return to Sail in Seafarer with Arrhythmia” menyoroti risiko unik profesi pelaut serta pentingnya standar keselamatan maritim.
Setelah sesi Coffee Break, rangkaian berlanjut ke Pre-Symposium 3 bertajuk “The Rise of Leadless Pacemakers: Expanding Applications and Patient Selection” yang dipandu oleh Prof. Muzakkir, MD, PhD dan Anggia C. Lubis, MD. Pertama-tama, Dony Yugo Hermanto, MD membuka sesi dengan “Leadless vs. Transvenous: Who Truly Benefits?” yang membandingkan keunggulan leadless pacemaker dengan sistem transvenous, terutama dari aspek keamanan dan komplikasi jangka panjang. Chaerul Achmad, MD, PhD kemudian memaparkan “Optimizing Atrioventricular Synchrony in Leadless Pacing with Single-Device Approach”, menyoroti inovasi untuk menjaga sinkronisasi atrioventrikular demi efektivitas kontraksi jantung. Sebagai penutup, Muhammad Yamin, MD, PhD membawakan “Comprehensive Management of Leadless Pacemakers: From Implantation to Long-Term Outcomes and Challenges” yang mengulas tahapan implantasi, keunggulan tanpa kabel, hingga tantangan teknis pemantauan jangka panjang.
Rangkaian Pre-Symposium 1 dan 3 memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi jantung harus berjalan beriringan dengan evaluasi komprehensif, individualisasi terapi, serta keterlibatan pasien dan tenaga medis untuk menjamin keselamatan sekaligus kualitas hidup jangka panjang.