12 September 2025

Inovasi dan Kolaborasi yang Menghiasi Hari Pertama Simposium InaHRS 2025: PFA, SVT, hingga Pencegahan Sudden Cardiac Death

Mendalami inovasi PFA, membedah kembali SVT, dan mempelajari strategi pencegahan kematian jantung mendadak.

Sesudah istirahat makan siang, rangkaian The 12th Annual Scientific Meeting InaHRS 2025 dilanjutkan dengan ketiga simposium di Dian Ballroom. Bertajuk “Live Demo Pulse Field Ablation (PFA): Personalized Treatment Strategies for Complex AF Patients”, simposium pertama menyoroti inovasi PFA sebagai tatalaksana fibrilasi atrium. Sunu B. Raharjo, MD, PhD dan Shih-Lin Chang, MD, PhD mendemonstrasikan teknik PFA secara virtual. Terpisahnya jarak tidak menghalangi hangatnya diskusi yang dipimpin oleh Prof. Yoga Yuniadi, MD, PhD dan Dian Andina Munawar, MD, PhD selaku moderator sambil kedua narasumber menunjukkan kepiawaiannya dalam melakukan PFA.


Paparan mengenai “The Science Behind Pulse Field Ablation: How Irreversible Electroporation is Changing AF Therapy” oleh Agung Fabian Chandranegara, MD turut melengkapi simposium pertama. Ia membahas bahwa PFA berpotensi menjadi pilihan tatalaksana fibrilasi atrium yang masih menjadi masalah aritmia terbesar. Kendati demikian, penerapan PFA tetap harus mempertimbangkan kondisi pasien, sebagaimana pemaparan oleh Beny Hartono, MD yang berjudul “Defining the Candidates: Patient Selection for Pulsed Field Ablation in Atrial Fibrillation”. 


Simposium kedua dengan tajuk “Back to Basic: SVT Session” di Dian Ballroom B membedah takikardia supraventrikular (SVT) paroksismal secara mendalam dengan didampingi Daniel Tanubudi, MD dan Ardian Rizal, MD selaku moderator. Sebelum pemaparan pertama, Diajeng Putri Dewanti, MD mempresentasikan pemaparannya yang berjudul “Radiofrequency Catheter Ablation in Pediatric SVT Patients: Consistent Outcomes Regardless of Body Weight or Cardiac Anatomy” secara singkat sebagai bagian dari flash talk abstract submission. Selanjutnya, Haryadi, MD membawa audiens ke dunia anatomi melalui materinya yang berjudul “Deep Dive on the Anatomy of the Heart Related to SVT Mechanism and Ablation”. Benny M. Setiadi, MD lantas mengalihkan fokus audiens ke pasien Wolff-Parkinson-White (WPW) pada presentasinya mengenai “Tachyarrhythmia vs. Dyssynchrony: Pathways to Cardiomyopathy in WPW”. Sebagai penutup, Faris Basalamah, MD, PhD yang ahli dalam elektrofisiologi mengajarkan audiens untuk membedakan SVT melalui studi elektrogram (EGM) atau elektrofisiologi (EF).


Simposium ketiga yang merupakan gabungan antara InaHRS dan APHRS menjadi penutup pada sore hari ini. Benny M. Setiadi, MD dan Fera Hidayati, MD mempersilakan ketiga pembicara untuk menyampaikan materinya seputar topik “Prevention of Sudden Cardiac Death in Cardiomyopathy”. Muhammad Munawar, MD, PhD mengawali simposium dengan menggali cakupan, mekanisme, dan faktor risiko kematian jantung mendadak pada pasien kardiomiopati. Sementara itu, Dicky A. Hanafi, MD, PhD menunjukkan pengaplikasian rekomendasi tatalaksana InaHRS seputar aritmia ventrikular dalam rangka menyambut peluncuran pedoman tatalaksana aritmia ventrikular InaHRS. Sesi ini ditutup dengan materi “ICD vs Ablation in Prevention of Sudden Cardiac Death in Cardiomyopathy” oleh Wee Siong Teo, MD. Dokter yang berasal dari Singapura ini menutup pemaparannya dengan menyatakan bahwa ablasi dapat meningkatkan kualitas hidup dan prognosis pasien walau ICD menjadi standar. Sebagai penutup, simposium hari ini menegaskan komitmen para ahli untuk menggabungkan inovasi teknologi, keilmuan, dan kolaborasi internasional demi peningkatan tatalaksana aritmia tidak hanya di Indonesia, tetapi juga kawasan Asia.